Friday, 18 September 2015


“ Khairun naasi anfa’uhum linnaas.” 
( Sebaik-baik manusia adalah orang yang paling banyak bermanfaat bagi orang lain)”  

Mengabdi untuk mencerdaskan anak bangsa dalam misi kemanusian, membuatku tidak patah semangat meskipun keadaan yang dilalui sangatlah sulit meski mengabdi di daerah jauh dari keramaian sebagai guru bantu. Bagiku, menginvestasikan ilmu bagi anak-anak adalah tugas mulia.
“Ini tugas mulia, dan saya yakin ini investasi akhirat. Mengabdi dengan rasa ketulusan akan menimbulkan kebahagian tersendiri, bila dijalankan dengan tulus dan ikhlas,” ungkapku pada seorang tokoh masyarakat disitu.

Mengabdikan diri sebagai guru bantu tidak membuatku minder dari teman- teman PNS, Selama 1 tahun lamanya pada 2003, ditugaskan di Dusun Alo Desa Tombulilato, Kecamatan Bonepantai, Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo. Kebiasaan hidup dilingkungan pedesaan merupakan modal untuk untuk terbiasa dengan keterbatasan yang dirasakannya selama mengabdi di wilayah tersebut mulai dari, minimnya aliran listrik, tidak ada sinyal dan jaringan komunikasi yang sulit dijangkau, dan kelangkaan air bersih bila musim kemarau tiba pada saat itu.

Belum lagi, perjalan panjang dirasakannya ketika ia hendak menuju ke lokasi sekolah di SDN 4 Tombulilato (saat itu) , tempatku mengabdikan diri menjadi guru bantu. Kondisi jalan tanah berbatu merupakan jalan tak menyurutkan semangatnya untuk membagi ilmu yang bermanfaat yang dimilikinya.
“Karena ini sesuatu yang baru buat saya (pengalaman). Saya suka tantangan, saya senang berbagi pengalaman saya terutama ilmu bermanfaat bagi anak-anak,” ujar Guru Relawan SGI Dompet Dhuafa angkatan VI ini.
Semangatnya untuk mencerdaskan anak-anak bangsa yang tinggal di wilayah pelosok negeri ini terlihat sangat menggelora. Hal itu dibuktikan April, demikian sapaan akrabnya sehari-hari ini dengan menerapkan 3 sistem metode pengajaran saat di kelas dengan nama metode mengajar cerdas dan kreatif.  Pertama, motode homevisit, les tambahan, belajar sambil bermain di dalam dan luar ruangan. Metode belajar yang diterapkannya tersebut bertujuan untuk membantu murid-muridnya dalam memahami berbagai mata pelajaran.
“Anak-anak di sini tidak senang dengan guru yang kaku cara mengajarnya. Jadi mereka lebih senang guru itu sebagai kawan bermain mereka juga. Saya berusaha menerapkan itu” jelas alumni Universtitas Brawijaya ini.
Saat waktu libur tiba, April tidak pernah menghabiskan waktunya dengan percuma. Biasanya, aktivitas sehari-hari di penempatan banyak dihabiskannya dengan mengisi kegiatan yang lagi-lagi membawa banyak manfaat seperti memberikan les kepada siswa-siswa yang membutuhkan tambahan pelajaran atau mengerjakan PR. menjalani kegiatan sore menyenangkan bagi anak-anak sekitar tempat tinggal (istana anak).Selain itu, kegiatan Malam Bina Taqwa(Mabit) untuk anak-anak sekitar tempat tinggal pun dilaksanakan setiap 2 kali seminggu. Dalam kegiatan mabit biasanya April mengisinya dengan dongeng kisah tauladan.

No comments:

Post a Comment